Umeng’s Blog


Kerusakan Lingkungan Mengancam Keanekaragaman Hayati
March 17, 2009, 5:59 am
Filed under: Alamku

Lebih dari seperempat abad yang lalu, tepatnya tahun 1972 di Stockholm, Swedia, diselenggarakan Konferensi PBB yang bertemakan Lingkungan Hidup. Pada kesempatan tersebut disepakati tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Selain itu asas pengelolaan lingkungan yang diharapkan menjadi kerangka acuan bagi setiap negara turut dideklarasikan. Kini 28 tahun sudah berlalu, namun pada kenyataannya kerusakan lingkungan hidup masih terjadi dimana-mana, termasuk di Indonesia. Yang menonjol adalah gangguan atau kerusakan pada berbagai ekosistem yang menyebabkan komponenkomponen yang menyusun ekosistem, yaitu keanekaragaman varietas (genetic, variety, atau subspecies diversity), keanekaragaman jenis (species diversity) juga ikut terganggu. Akibatnya, terjadilah kepunahan varietas atau jenis hayati yang hidup di dalam ekosistem. Pada akhirnya, baik secara langsung ataupun tidak langsung, manusia yang sangat tergantung pada kelestarian ekosistem tapi berlaku kurang bijaksana terhadap lingkungannya, akan merasakan berbagai akibatnya. Kerusakan lingkungan, khususnya di Indonesia, telah terjadi pada berbagai tempat dan berbagai tipe ekosistem. Misalnya, pada ekosistem pertanian, pesisir dan lautan. Ancaman kepunahan satwa liar juga telah terjadi di mana-mana. B erbaga i kerusa kan lin gkung an di ekosistem pertanian telah b anyak te rjadi baik pada ekos istem pertan ian sawah maupun e kosistem pe rta nian lahan kering nonpadi. K erusakan li n gku n gan di e kosistem sawah utamanya diakibatkan oleh program Revolusi KAWASANPERTANIAN Hijau (gre en revolu tion), khususn ya de ngan ad anya introduksi va rietas padi ungg ul dari Filip ina, dan pengg una an pupuk ki mia, serta pengg unaan pes tisida yang ta k terkendali. R evolusi Hijau mema ng telah berjasa m eningkat kan produk si padi sec ara na sional (makro), nam un progra m tersebut juga telah menyeb abkan kerusakan lingku ngan y ang tidak sedikit, s eperti kepu nahan ratusan var ietas p adi lokal, ledakan hama baru, serta pencemaran tanah dan air. Penga ruh Revolu si Hija u pad a sistem sawah, secara tidak langsung juga telah menyeb abkan komersia lisasi pert anian l aha n kering. Misalnya , akibat desakan ekonomi pasar d i berbagai tem pat, sistem perta nian ag roperhutanan (agrofo restry) tradisional yang ramah lingkungan , sepe rti k ebun ca mpuran (talun, Sunda) ditebangi, dibuka lalu digara p menjadi kebun sayuran k omersil. Akib atnya, sistem pe rtanian agroperh utana n tra disional yang tadi nya biasa ditan ami an eka je nis tanaman ka yu ba han bangu nan, kayu ba kar d an buah-b uahan, se rta ditan ami juga dengan jenis ta naman semusim , sep erti tanaman pangan, s ayu r, bu mbu m asak, d an ob at-obatan tradis ional, kini tel ah berubah menjadi sistem pertanian sayur monokultur komersil. K enda ti mem beri peluang keluara n (output) ekonomi lebih ting gi, pen gelolaan s istem pertanian komers il sayu ran pada dasa rnya memb utuh kan asupan (input) yang tin ggi yan g bersum ber d ari luar (pasar ). Ke perlu annya terura i seperti , benih sayur, pupuk k imia dan oba t-obata n, sehingg a petani menjadi sangat ter gan tung pad a ekonom i pasar. Akibat pe rubahan ini, b erbagai k erusak an ling kungan terjadi di sentra-sen tra pert ani an say ur lahan k ering, seperti pegunung an Dieng di Jawa Teng ah, serta Gar ut, Lemb ang, M ajalaya, Ci wid ey, da n P angalenga n, di Jawa Barat. Kerusakan itu antara lain timbulnya erosi.

images21Lebih dari seperempat abad yang lalu, tepatnya tahun 1972 di Stockholm, Swedia, diselenggarakan Konferensi PBB yang bertemakan Lingkungan Hidup. Pada kesempatan tersebut disepakati tanggal 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Selain itu asas pengelolaan lingkungan yang diharapkan menjadi kerangka acuan bagi setiap negara turut dideklarasikan. Kini 28 tahun sudah berlalu, namun pada kenyataannya kerusakan lingkungan hidup masih terjadi dimana-mana, termasuk di Indonesia. Yang menonjol adalah gangguan atau kerusakan pada berbagai ekosistem yang menyebabkan komponenkomponen yang menyusun ekosistem, yaitu keanekaragaman varietas (genetic, variety, atau subspecies diversity), keanekaragaman jenis (species diversity) juga ikut terganggu. Akibatnya, terjadilah kepunahan varietas atau jenis hayati yang hidup di dalam ekosistem. Pada akhirnya, baik secara langsung ataupun tidak langsung, manusia yang sangat tergantung pada kelestarian ekosistem tapi berlaku kurang bijaksana terhadap lingkungannya, akan merasakan berbagai akibatnya. Kerusakan lingkungan, khususnya di Indonesia, telah terjadi pada berbagai tempat dan berbagai tipe ekosistem. Misalnya, pada ekosistem pertanian, pesisir dan lautan. Ancaman kepunahan satwa liar juga telah terjadi di mana-mana. B erbaga i kerusa kan lin gkung an di ekosistem pertanian telah b anyak te rjadi baik pada ekos istem pertan ian sawah maupun e kosistem pe rta nian lahan kering nonpadi. K erusakan li n gku n gan di e kosistem sawah utamanya diakibatkan oleh program Revolusi KAWASANPERTANIAN Hijau (gre en revolu tion), khususn ya de ngan ad anya introduksi va rietas padi ungg ul dari Filip ina, dan pengg una an pupuk ki mia, serta pengg unaan pes tisida yang ta k terkendali. R evolusi Hijau mema ng telah berjasa m eningkat kan produk si padi sec ara na sional (makro), nam un progra m tersebut juga telah menyeb abkan kerusakan lingku ngan y ang tidak sedikit, s eperti kepu nahan ratusan var ietas p adi lokal, ledakan hama baru, serta pencemaran tanah dan air. Penga ruh Revolu si Hija u pad a sistem sawah, secara tidak langsung juga telah menyeb abkan komersia lisasi pert anian l aha n kering. Misalnya , akibat desakan ekonomi pasar d i berbagai tem pat, sistem perta nian ag roperhutanan (agrofo restry) tradisional yang ramah lingkungan , sepe rti k ebun ca mpuran (talun, Sunda) ditebangi, dibuka lalu digara p menjadi kebun sayuran k omersil. Akib atnya, sistem pe rtanian agroperh utana n tra disional yang tadi nya biasa ditan ami an eka je nis tanaman ka yu ba han bangu nan, kayu ba kar d an buah-b uahan, se rta ditan ami juga dengan jenis ta naman semusim , sep erti tanaman pangan, s ayu r, bu mbu m asak, d an ob at-obatan tradis ional, kini tel ah berubah menjadi sistem pertanian sayur monokultur komersil. K enda ti mem beri peluang keluara n (output) ekonomi lebih ting gi, pen gelolaan s istem pertanian komers il sayu ran pada dasa rnya memb utuh kan asupan (input) yang tin ggi yan g bersum ber d ari luar (pasar ). Ke perlu annya terura i seperti , benih sayur, pupuk k imia dan oba t-obata n, sehingg a petani menjadi sangat ter gan tung pad a ekonom i pasar. Akibat pe rubahan ini, b erbagai k erusak an ling kungan terjadi di sentra-sen tra pert ani an say ur lahan k ering, seperti pegunung an Dieng di Jawa Teng ah, serta Gar ut, Lemb ang, M ajalaya, Ci wid ey, da n P angalenga n, di Jawa Barat. Kerusakan itu antara lain timbulnya erosi.

Advertisements

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: